14
Nov
09

#079 melankolia

Pagi ini saya baru saja terbangun dari sebuah mimpi yang manis. Tidak bisa dikatakan indah, namun cukup manis (a sweet dream kalo kata orang bule, kali ya). Saya tertidur tanpa sadar ketika komputer masih menyala di awal hari tadi. Ketika saya sadari, jarum pendek jam dinding menunjuk angka empat. Setelah menghabisi komputer saya tidur lagi. Kali ini dengan selimut membungkus tubuh. Dan kali ini dengan mimpi.

Dia masih seperti dulu. Masih seperti ketika pertama saya jumpa dengannya. Masih dapat kulihat rambutnya yang tergerai di bahunya. Masih dapat kulihat bando putih di kepalanya. Masih kulihat seragam putih abu-abu dipakainya. Masih dengan tawanya yang khas. Masih dengan matanya yang meneduhkan. Masih dengan suaranya yang tergambar jelas di kepala ini.

Rupanya memori tentang dia masih membekas pada diri saya, walaupun sudah berulangkali saya bersikukuh menyangkal pada teman-teman yang menanyakan perasaan saya padanya kini. Saya selalu bilang pada mereka kalau saya sudah melupakan dia, dan dia kini tak lebih dari bagian masa lalu saya. Sebuah kisah “kasih yang tak sampai” (kayak lagu Padi, yah).

Namun mengapa di mimpi tadi saya begitu gembira bisa melihat wajahnya lagi? Mengapa hati saya bergejolak ketika dia mengajak saya pergi berdua dengannya? Dan mengapa saya begitu enggan beranjak dari tempat tidur ketika mimpi itu berakhir? Pertanyaan-pertanyaan ini terus membayangi saya.

12
Nov
09

Seandainya Saja Boleh Salin-Tempel… -rev

Saya sering sekali mendengar ungkapan “serahkanlah sebuah urusan (perkara) pada ahlinya”, entah dari seorang ustad kondang, maupun dari teman sepermainan. Sebuah kalimat yang menarik dan bermakna. Sayangnya sebagian dari kita seringkali merasa malas untuk mencari ilmu yang tidak/belum kita kuasai. Apalagi semakin tua rasanya kok ya semakin malas ya? Beruntung sekarang ini zaman sudah masuk ke era teknologi informasi. Ketik saja sebuah frasa di mesin penjelajah daring. Beberapa saat kemudian coba lihat berapa banyak data yang bisa kita peroleh. Wow asiknya.

Berikut saya coba kumpulkan beberapa artikel tentang dunia gadget audio yang menurut saya banyak membantu saya hingga saat ini.

Dari forum Head-Fi (salah satu forum internasional terbesar dunia audio):

__________

Dari forum Audiophile Indonesia (forum audio lokal nih):

__________

Dari situs Anything But iPod:

__________

Dari blognya ClieOS:

__________

Dari situs Headfonia (kontributor lokal berbahasa Inggris):

__________

(bersambung, nanti kapan-kapan kalo sempat… capek juga…)

07
Nov
09

#078 akhirnya 100 juga!

Hahaha… ga nyangka akhirnya saat-saat ini tiba juga. Postingan di blog ini akhirnya sampai juga di angka seratus. Sungguh sebuah perjalanan yang panjang, lebih-lebih untuk saya yang tidak memiliki dasar keahlian menulis dan bercerita. Dengan modal hanya nekat, laptop, dan Speedy (terima kasih PT.Telkom!) saya rasa pencapaian ini cukup fantastis untuk saya.

Oh ya, kebetulan sudah dua hari ini saya kembali memakai OS buatan Apple, yaitu Mac OS X Leopard. Sebenarnya kembalinya saya ke OS ini pada awalnya hanyalah sebuah keisengan belaka, sambil menunggu unduhan Ubuntu Karmic Koala selesai dan diinstal di laptop. Sungguh, saya ngebet banget kepingin mencoba Ubuntu yang baru rilis kurang lebih seminggu yang lalu ini. Karena konon, menurut review-review yang bertebaran di jagat maya, sistem operasi keluaran baru dari Canonical ini menerapkan banyak sekali perkembangan signifikan dari versi-versi sebelumnya.

Namun ketika Leopard telah terinstal di laptop (dengan segudang masalah dan satu malam begadang) saya malah keenakan dengan sistem operasi ini. Memang, tak salah kini banyak pengguna komputer beralih menggunakan produk-produk Apple (walaupun saya sangsi mereka mengejar softwarenya, alih-alih hanya menginginkan segi gaya dan prestisenya saja), karena memang peranti lunak buatan mereka menomorsatukan kemudahan. Microsoft boleh saja mengklaim bahwa sebagian besar penduduk dunia menggunakan Windows, namun saya membayangkan apa yang akan terjadi seandainya dulu mereka tidak melakukan monopoli (Kasus IE, Office, dll) dan seandainya harga produk-produk Apple sedikit “merakyat”. Hmmm….

Dan kemarin malam, saya akhirnya sukses menginstal Leopard di laptop dan Desktop PC di rumah. Memang, “pemaksaan instalasi” ini berujung pada beberapa perangkat keras yang ogah berfungsi. Di laptop driver wireless-nya konflik dengan ethernet bila diinstal. Sementara di PC VGA-nya tidak bisa dimaksimalkan (dengan Quartz Extreme). Namun alhamdulillah, selain masalah itu yang lainnya lancar jaya berjalan dengan mulus. Hehehe… Kini laptop saya sudah bisa menampilkan efek-efek khas Leopard (yang sebenarnya sudah bisa ditiru dengan mirip oleh Compiz-Fusion, sih) seperti Dasboard, Expose, dan Spaces. Walaupun bukan hal yang baru bagi saya, tapi tetap saja perasaan puas tak dapat disembunyikan oleh saya yang langsung merayakannya dengan bermain futsal tadi siang (kok ga nyambung ya?).

Ah iya, jadi ingat deh dengan futsal tadi siang. Kaki saya terkilir nih. Kalo atlet-atlet kayak Messi dan Aguero kan pada sering tuh cedera tulang telapak kaki. Nah, saya juga mengalami hal yang sama tadi siang. Tiba-tiba, selagi asik membawa bola, telapak kaki saya terasa sakit sekali. Rasanya seperti terlipat. Tak kuat dengan rasa sakitnya, sayapun keluar dari lapangan futsal. Bergabung dengan Idwan yang sebelumnya telah saya cederai (tabrakan sih tepatnya). Sampai sekarang, sakitnya masih terasa. Kalo dirasa-rasa sih sepertinya malah makin parah dan menjadi-jadi. Ah, jadi ingin tidur.

Besok mesti jalan-jalan lagi nih, buat tugas seminar. Ah, malas ah. Pengennya sih hari minggu itu diisi dengan berleha-leha di rumah. Makan, main, nonton, baca, denger musik, nonton film, tidur. Ahahaha… Tapi apa dayaku. Masa mau kuliah lama-lama. Yo ayo ah, ayo Persib Bandung. Eh, maksudnya ayo semangat ngerjain tugas.

Minggu depan rencananya beli CD lagi ah. Mungkin Sherina, mungkin Gita Gutawa. Enak juga rupanya lagu-lagu mereka. Atau kuping saya udah semakin “ngepop” ya? Dulu sih nyaris mustahil saya ngedengerin lagu-lagu pop macam mereka. Tapi sekarang entah kenapa telinga saya lebih “toleran” terhadap genre-genre yang sebelumnya saya “musuhi”. Ah ah ah… udah tua kali ya saya ini… Padahal wajah masih sering disangka maba (mahasiswa baru) nih. Hihihi.

Wah makin lama tulisan ini makin ga jelas. Udahan dulu aja ah. Besok (mungkin) disambung lagi.

05
Nov
09

#077 ketika semua bermula -rev

Semua bermula dari perkenalan saya dengan mahasiswa Arsitektur ITB 2006 bernama Padhang. Walaupun berbeda angkatan namun karena saya (terpaksa) mengulang beberapa kuliah tingkat satu maka saya bisa berkesempatan mengenal beberapa anak angkatan bawah. Ketika itu seingat saya adalah sebuah hari selasa yang cerah di awal tahun 2007, di mana pagi harinya dimulai dengan kuliah teori Rupa Dasar II. Setelah kuliah di dalam kelas, kami menuju studio di lantai enam untuk mengerjakan tugas kuliah yang dahulu bernama Nirmana ini. Namun seperti kebiasaan yang seolah telah menjadi tradisi, sebagian besar mahasiswa malah sibuk dengan pekerjaan yang lain. Ada yang mengobrol, cari makan pagi, menjelajah internet di labkom, bahkan ada yang pulang atau main ke luar kampus. Saat itu karena masih awal semester, yang berarti semangat masih penuh dan godaan belum banyak, saya masih setia di studio. Eeh, tepatnya di depan studio, di mezanin lantai enam, sebuah ruang antara studio tingkat I dan studio S2.

Nah, kenalan baru saya yang bernama Padhang ini kebetulan sedang mendengarkan musik dari MP3 player-nya. Sekilas memandang, saya yang ketika itu belum tau apa-apa tentang dunia audio ini mengira ia tengah memakai headphone, namun baru saya ketahui belakangan bahwa yang ia pakai saat itu adalah backphone (sejenis headphone yang dipakai di belakang kepala). Ketika itu ia menawarkan pada saya untuk mendengarkan musik yang ia dengarkan. Katanya sih musik instrumental, sebuah duo bernama DEPAPEPE. Hmm… memang alunan musiknya aduhai, langsung memikat telinga. Namun yang justru membekas di ingatan saya adalah kualitas suara dari setup MP3 player dan headphone-nya. Bagi saya kualitas suaranya luar biasa saat itu. Itulah pertama kali dalam hidup baru saya sadari kalau selama ini musik yang saya dengar belumlah “utuh” seperti seharusnya diperdengarkan. Ternyata sebelumnya saya melewatkan banyak sekali detail dalam sebuah lagu.

Saat itu alih-alih mendengarkan musiknya, saya malah mengamati MP3 player dan backphone-nya. Ternyata MP3 player-nya bermerk Creative, dan backphone-nya bermerk Sennheiser. Karena sebelumnya saya pernah mencoba player tersebut (dan tidak merasakan sensasi yang sama), maka kesimpulan saya saat itu backphone-nya yang berandil besar pada sensasi yang saya alami sebelumnya. Setelah saya teliti ternyata ada tulisan “PMX 100″ di salah satu sisinya. Wahaha… hari itu juga saya langsung berburu barang itu di BEC. Bukan untuk membelinya sih, tapi saya cuma penasaran sama harganya. Ternyata ketemu! Tapi tak ada harganya di box yang dipasang di etalase toko itu. Tokonya pun toko elit pula, jadi kesimpulan saya barang ini termasuk barang mahal nih. Hehehe, daripada malu cuma nanya harga, mendingan kabur aja pulang ke rumah.

Sennheiser PMX100

Sennheiser PMX100

Setelah hari itu saya lupa sejenak tentang dunia audio. Mungkin tepatnya melupakan sejenak, menyadari bahwa harga barang-barang audio ini ternyata aduhai mambo mahalnya. Namun beberapa bulan kemudian ketika saya hendak pulang ke rumah setelah berstudio seharian, saya sempat dicegat lagi oleh Padhang. Dia yang sedang mendengarkan musik di depan gedung Arsitektur meminta saya duduk sebentar untuk mencoba headphone barunya. Selidik punya selidik ternyata merknya Audio-Technica tipe SQ5. Bentuknya bagus banget, pikir saya saat itu. Saya tempelkan headphone itu di telinga saya dan mulai mencoba memutar musiknya. Eh, lho kok ternyata playernya baru juga. Apa nih kecil-kecil item, pikir saya (saya baru tahu belakangan bahwa itu adalah Sansa Clip). Namun keheranan saya saat itu langsung disambut oleh gempitanya suara musik yang memukau. WAW. Dahsyat! Ketika itu saya tanyakan padanya harga headphone tersebut. Ia menjawab dengan enteng, “Ah itu barang seken, kok. Cuma tujuh ratus ribuan.”

Audio-Technica ATH-SQ5

Audio-Technica ATH-SQ5

Sejenak saya ternganga. Namun berturut-turut setelah itu saya “diracuni” olehnya dengan racun-racun audio milik dia lainnya. Saya jadi tahu merk-merk yang sebelumnya belum pernah saya dengar, seperti Sansa Clip, Sansa Fuze, Yuin, dbE, Shure, iBasso, dan segudang merk lain di kemudian hari. Beruntung, dengan semakin luas wawasan tentang ini, maka saya jadi tahu bahwa kualitas suara yang bagus tidak selalu sama dengan harga mahal. Ada setup-setup yang berorientasi pada budjet namun berkualitas lumayan bagus. Bahkan beberapa rekomendasi kualitas luar biasa justru biasanya terletak pada merk-merk yang kurang akrab di telinga orang awam. Saat ini siapa sih yang tahu MP3 player Amp3, misalnya? Atau siapa sih yang pernah mendengar merk amplifier iBasso? Bahkan Sang Legenda YUIN PK1 pun (yang digadang-gadangkan sebagai earphone terbaik sejagat) berapa orang sih yang tahu?

Hisoundaudio AMP3

Hisoundaudio AMP3


Saat ini mungkin saya cuma bisa senyum-senyum sendiri mengingat saat-saat itu. Karena ketika telinga kita sudah semakin “kritis” terhadap kualitas suara, prosesnya satu arah. Saat itulah kita tidak bisa kembali lagi pada telinga kita yang mendengarkan musik secara back-listening. Apalagi semakin sering kita melakukan critical listening maka semakin banyak hal yang bisa kita sadari dalam sebuah suara, khususnya rekaman musik. Banyak sekali orang yang berpikir, “Ah apa bedanya sih? Suaranya sama-sama aja kok.” Memang saya juga tak bisa berkata apa-apa kepada mereka, karena saya pun telah mengalami masa-masa itu. Hehehe. Bahkan saya kenal seseorang yang pernah berkata seperti tadi langsung pada saya dan beberapa bulan kemudian ia ternyata sudah “berburu” headphone-headphone ternama.

17
Oct
09

#076 masih ga ada kerjaan

Satomi Ishihara - "Tayutai"

Satomi Ishihara - "Tayutai"

Satomi Ishihara - "Tayutai" Alternative

Satomi Ishihara - "Tayutai" Alternative