Semua bermula dari perkenalan saya dengan mahasiswa Arsitektur ITB 2006 bernama Padhang. Walaupun berbeda angkatan namun karena saya (terpaksa) mengulang beberapa kuliah tingkat satu maka saya bisa berkesempatan mengenal beberapa anak angkatan bawah. Ketika itu seingat saya adalah sebuah hari selasa yang cerah di awal tahun 2007, di mana pagi harinya dimulai dengan kuliah teori Rupa Dasar II. Setelah kuliah di dalam kelas, kami menuju studio di lantai enam untuk mengerjakan tugas kuliah yang dahulu bernama Nirmana ini. Namun seperti kebiasaan yang seolah telah menjadi tradisi, sebagian besar mahasiswa malah sibuk dengan pekerjaan yang lain. Ada yang mengobrol, cari makan pagi, menjelajah internet di labkom, bahkan ada yang pulang atau main ke luar kampus. Saat itu karena masih awal semester, yang berarti semangat masih penuh dan godaan belum banyak, saya masih setia di studio. Eeh, tepatnya di depan studio, di mezanin lantai enam, sebuah ruang antara studio tingkat I dan studio S2.
Nah, kenalan baru saya yang bernama Padhang ini kebetulan sedang mendengarkan musik dari MP3 player-nya. Sekilas memandang, saya yang ketika itu belum tau apa-apa tentang dunia audio ini mengira ia tengah memakai headphone, namun baru saya ketahui belakangan bahwa yang ia pakai saat itu adalah backphone (sejenis headphone yang dipakai di belakang kepala). Ketika itu ia menawarkan pada saya untuk mendengarkan musik yang ia dengarkan. Katanya sih musik instrumental, sebuah duo bernama DEPAPEPE. Hmm… memang alunan musiknya aduhai, langsung memikat telinga. Namun yang justru membekas di ingatan saya adalah kualitas suara dari setup MP3 player dan headphone-nya. Bagi saya kualitas suaranya luar biasa saat itu. Itulah pertama kali dalam hidup baru saya sadari kalau selama ini musik yang saya dengar belumlah “utuh” seperti seharusnya diperdengarkan. Ternyata sebelumnya saya melewatkan banyak sekali detail dalam sebuah lagu.
Saat itu alih-alih mendengarkan musiknya, saya malah mengamati MP3 player dan backphone-nya. Ternyata MP3 player-nya bermerk Creative, dan backphone-nya bermerk Sennheiser. Karena sebelumnya saya pernah mencoba player tersebut (dan tidak merasakan sensasi yang sama), maka kesimpulan saya saat itu backphone-nya yang berandil besar pada sensasi yang saya alami sebelumnya. Setelah saya teliti ternyata ada tulisan “PMX 100″ di salah satu sisinya. Wahaha… hari itu juga saya langsung berburu barang itu di BEC. Bukan untuk membelinya sih, tapi saya cuma penasaran sama harganya. Ternyata ketemu! Tapi tak ada harganya di box yang dipasang di etalase toko itu. Tokonya pun toko elit pula, jadi kesimpulan saya barang ini termasuk barang mahal nih. Hehehe, daripada malu cuma nanya harga, mendingan kabur aja pulang ke rumah.

Sennheiser PMX100
Setelah hari itu saya lupa sejenak tentang dunia audio. Mungkin tepatnya melupakan sejenak, menyadari bahwa harga barang-barang audio ini ternyata aduhai mambo mahalnya. Namun beberapa bulan kemudian ketika saya hendak pulang ke rumah setelah berstudio seharian, saya sempat dicegat lagi oleh Padhang. Dia yang sedang mendengarkan musik di depan gedung Arsitektur meminta saya duduk sebentar untuk mencoba headphone barunya. Selidik punya selidik ternyata merknya Audio-Technica tipe SQ5. Bentuknya bagus banget, pikir saya saat itu. Saya tempelkan headphone itu di telinga saya dan mulai mencoba memutar musiknya. Eh, lho kok ternyata playernya baru juga. Apa nih kecil-kecil item, pikir saya (saya baru tahu belakangan bahwa itu adalah Sansa Clip). Namun keheranan saya saat itu langsung disambut oleh gempitanya suara musik yang memukau. WAW. Dahsyat! Ketika itu saya tanyakan padanya harga headphone tersebut. Ia menjawab dengan enteng, “Ah itu barang seken, kok. Cuma tujuh ratus ribuan.”

Audio-Technica ATH-SQ5
Sejenak saya ternganga. Namun berturut-turut setelah itu saya “diracuni” olehnya dengan racun-racun audio milik dia lainnya. Saya jadi tahu merk-merk yang sebelumnya belum pernah saya dengar, seperti Sansa Clip, Sansa Fuze, Yuin, dbE, Shure, iBasso, dan segudang merk lain di kemudian hari. Beruntung, dengan semakin luas wawasan tentang ini, maka saya jadi tahu bahwa kualitas suara yang bagus tidak selalu sama dengan harga mahal. Ada setup-setup yang berorientasi pada budjet namun berkualitas lumayan bagus. Bahkan beberapa rekomendasi kualitas luar biasa justru biasanya terletak pada merk-merk yang kurang akrab di telinga orang awam. Saat ini siapa sih yang tahu MP3 player Amp3, misalnya? Atau siapa sih yang pernah mendengar merk amplifier iBasso? Bahkan Sang Legenda YUIN PK1 pun (yang digadang-gadangkan sebagai earphone terbaik sejagat) berapa orang sih yang tahu?

Hisoundaudio AMP3
Saat ini mungkin saya cuma bisa senyum-senyum sendiri mengingat saat-saat itu. Karena ketika telinga kita sudah semakin “kritis” terhadap kualitas suara, prosesnya satu arah. Saat itulah kita tidak bisa kembali lagi pada telinga kita yang mendengarkan musik secara
back-listening. Apalagi semakin sering kita melakukan
critical listening maka semakin banyak hal yang bisa kita sadari dalam sebuah suara, khususnya rekaman musik. Banyak sekali orang yang berpikir, “Ah apa bedanya sih? Suaranya sama-sama aja kok.” Memang saya juga tak bisa berkata apa-apa kepada mereka, karena saya pun telah mengalami masa-masa itu. Hehehe. Bahkan saya kenal seseorang yang pernah berkata seperti tadi langsung pada saya dan beberapa bulan kemudian ia ternyata sudah “berburu” headphone-headphone ternama.
Recent Comments